Frustrasi akibat program diet yang dijalani seolah tak menampakkan hasil? Jangan-jangan penyebabnya karena hobi mengemil ketika kita seharusnya sudah tidur.

61886_stockxpertcom_id7435411_2Para peneliti dari University of Texas di El Paso mengatakan, banyak orang yang tanpa sadar memenuhi kebutuhan kalori hariannya di malam hari. Ini tentu saja tidak benar. Sebab, kebutuhan kalori seharusnya dipenuhi pada pagi atau siang hari, agar diubah menjadi energi untuk beraktivitas. Lalu apakah ini artinya kita tak boleh makan sama sekali saat hari telah gelap?
Tentu saja tidak, sebab menurut para ahli, hasrat untuk mengunyah makanan di malam hari boleh saja dipenuhi. Yang terpenting kita membatasi jumlah asupannya tak lebih dari sepertiga jumlah kalori harian.
Tapi tak sedikit dari kita yang mengira kebiasaan mengemil di malam hari karena rasa lapar yang tiba-tiba muncul. Padahal bisa jadi faktor tertentu yang sebenarnya membuat kita seperti “ketagihan” untuk selalu mengunyah menjelang waktu tidur. Misalnya :
  1. Malas Sarapan : Banyak wanita mengaku malas sarapan karena tak terbiasa. Padahal tindakan ini justru bisa menggagalkan upaya penurunan berat badan yang tengah dilakukan. Marci Gluck, PhD., psikolog klinis dari the National Institute of Health mengatakan, dorongan untuk ngemil setelah makan di malam hari biasanya dirasakan oleh mereka yang asupan makan pagi dan makan siangnya sedikit. Akibatnya, sistem pertahanan tubuh terhadap rasa lapar mudah runtuh dan kita cenderung makan lebih banyak di sore dan malam hari. Sebaiknya: Makanlah satu jam setelah kita bangun pagi, kata Jorge Cruise dalam bukunya, 8 Minutes In the Morning for Real Shapes, Real Sizes. Tujuannya agar menyeimbangkan kembali laju metabolisme, setelah tubuh “puasa” sepanjang malam.
  2. Lelah mental : Penelitian yang dilakukan pada 2007 di Australia menunjukkan, adanya hubungan signifikan antara stres mental dengan kebiasaan mengudap makanan ringan di malam hari. Hal ini banyak ditemukan, terutama pada kaum wanita. Menurut riset itu, kita cenderung mengatasi rasa gelisah, depresi, dan stres dengan mengonsumsi makanan tinggi lemak dan gula. Padahal saat stres muncul, produksi hormon kortisol di tubuh meningkat. Hormon ini turut berperan dalam menimbulkan penimbunan lemak di perut, plus memicu keinginan untuk ngemil yang sulit ditahan.Sebaiknya : Gunakan wewangian aromaterapi untuk menenangkan diri. Dr. Tjandraningrum, M.Gizi, spesialis gizi dari RS. SUmber Waras mengatakan, wewangian tertentu seperti vanilla dan cokelat, pada dasarnya bersifat menenangkan pikiran, sehingga stres pun berkurang. Kadar stres yang menurun otomatis mengurangi rasa lapar
  3. Sudah terbiasa ngemil : Pada dasarnya, sistem tubuh bekerja sesuai dengan pola atau kebiasaan yang kita bentuk. Jika selam ini kita terbiasa mengemil setiap jam 9 malam, maka tubuh akan otomatis “meminta” untuk diisi makanan pada waktu tersebut, setiap harinya. Ini tetap terjadi meski di saat itu tubuh seharusnya beristirahat dan berhenti “bekerja”. Akibatnya, makanan jadi sulit dicerna karena tubuh sudah berada dalam kondisi istirahat. Selanjutnya terjadi penumpukan lemak dan kalori di tubuh kita. Jika keadaan ini dibiasakan dalam waktu lama – secara sadar maupun tidak – maka kita akan berpotensi mengalami oebsitas. Demikian dijelaskan oleh Kathleen Zelman, MPH, RD, LD, ahli nutrisi dan juru bicara dari American Dietetic Association. Sebaiknya : Tahan keinginan untuk ngemil di malam hari,terutama bila sudah memasuki rentang 3 jam menjelang waktu tidur. Begitu saran dari Saunders. Atau agar lebih mudah, pastikan kita berhenti makan setelah lewat pukul 07.30 malam. Menurut Cruise, pada jam tersebut, temperatur badan mulai menurun. Begitu pula dengan fungsi vital tubuh, seperti detak jantung dan ritme napas. Semua itu merupakan alarm yang menandakan tubuh tengah bersiap untuk beristirahat. Jika pola makan kita mengikuti ritme tubuh, maka tubuh juga akan beristirahat dengan baik dan sebagaimana mestinya.
  4. Terkena Night Eating Syndrome (NES) : NES adalah salah satu gejala kelainan pola makan yang dikemukanakn pertama kali oleh Dr. Albert Stundkard, MD., dari University of Pennsylvania, pada 1995. Ia melakukan penelitian terhadap 25 pasien obesitas, sebanyak 90 persen diantaranya adalah perempuan. Sekitar 64 persen partisipan studi mengalami tiga gejala kelainan makan, yaitu meningkatnya nafsu makan di malam hari, sulit tidur, dan tidak nafsu makan pada pagi hari. Di Amerika, gejala ini menyerang hampir 6 juta penduduk. Di Indonesia, menurut Dr. Tjandraningrum, belum ada data pasti mengenai angka kejadiannya. Sementara itu, sebuah penelitian di Norwegia juga menunjukkan bahwa, penderita NES umumnya mengalami penurunan kadar beberapa jenis hormon dalam tubuh pada malam hari. Diantaranya adalah melatonin dan leptin. Penurunan ini membuat penderia selalu terjaga di malam hari, sehingga mudah merasa lapar yang kemudian berakhir pada aktivitas mengemil secara berlebih. Sebaiknya : Pertama-tama, atasi dulu problem sulit tidur pada penderita NES, kata Tjandraningrum. Kemudian, baru lanjut ke pengendalian stres.“Di tahap ini, penggunaan obat penenang bisa jadi salah satu terapi yang cukup efektif,” tambahnya. Namun yang penting kita berkonsultasi dengan dokter ahli atau psikolg, agar penanganannya tepat guna.
Nah… Lebih jelas banget kan..
makanya STOP NGEMILLL. mari kita mulai dengan kebiasaan hidup sehat yah ^_^